✔ Profil Biodata R.A. Kartini (Selamat Hari Kartini)

Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Kartini yang mana kita selalu merayakannya Hari Kar ✔ Profil Biodata R.A. Kartini (Selamat Hari Kartini)
Profil Biodata R.A. Kartini (Selamat Hari Kartini)
Gurumaju.com –  Profil Kartini, ra kartini, biodata kartini, Hari Kartini 2020. Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Kartini yang mana kita selalu merayakannya Hari Kartini tersebut setiap tanggal 21 April tiap tahunnnya. dan pada tahun ini sempurna tanggal 21 April 2020. dengan alasan turut menunjukkan informasi kepada Rakyat Indonesia Khususnya bahwa mempunyai salah satu Pahlawan perempuan yang dikenal sebagai pejuang Emansipasi Wanita, maka dengan artikel ini sanggup menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Sejarah dan juga Profil dari R.A. Kartini.


PROFIL TOKOH
Nama lengkap : R.A. Kartini
Profesi : aktivis
Tempat / Tgl Lahir : Jepara, 21 April 1879
Karya / Prestasi : Pahlawan Nasional Indonesia,

Lahir dari keluarga bangsawan, ia gunakan kesempatan itu untuk memajukan perempuan pribumi Jawa. Ia meninggal pada usia 25 tahun dan hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Kartini.
Raden Adjeng Kartini atau lebih sering dikenal dengan nama R. A. Kartini merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan pribumi kala itu.

Wanita yang lahir di Jepara, 21 April 1879 ini berasal dari keluarga priyayi atau aristokrat Jawa. Ia putri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah. Sang ibu merupakan istri pertama namun bukan yang utama. Kala itu, sang ayah merupakan seorang Wedana (kepala wilayah manajemen kepemerintahan di antara kabupaten dan kecamatan). Ada kebijakan dari pemerintah Belanda, kalau ingin menjadi bupati, maka ayah Kartini harus menikah dengan keturunan priyayi juga.

Sementara M. A. Ngasirah hanyalah orang biasa. Ibunya Kartini itu merupakan anak dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, yang merupakan guru agama di Telukawur, Jepara. Sedangkan sang ayah masih berada di garis keturunan Hamengkubuwono VI.

Karena situasi keluarga yang ibarat itu, ayah Kartini pun memutuskan untuk menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan eksklusif dari Raja Madura. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tirinya.

Kartini kecil berbeda dengan belum dewasa perempuan di kampungnya. Ia mendapat kesempatan sekolah bagus. Kartini menempuh pendidikan di ELS (Europese Lagere School) sampai usianya 12 tahun. Setelah itu, ia dipingit di rumah. Karena pada masa itu ada tradisi perempuan Jawa harus tinggal di rumah dan dipingit.

Selama sekolah di ELS, Kartini berguru Bahasa Belanda. Karena sanggup berbahasa Belanda tersebut, di rumah pun Kartini tetap berguru dan berkirim surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda salah satunya Rosa Abendanon dan Estelle "Stella" Zeehandelaar. Bahkan, beberapa kali goresan pena Kartini dimuat dalam majalah De Hollandsche Lelie.

Dari banyak sekali buku, majalah, dan surat kabar Eropa, Kartini mulai tertarik dengan cara berpikir wanita-wanita Eropa yang lebih bebas dan maju ketimbang wanita-wanita pribumi kala itu. Dari sanalah timbul keinginannya untuk memajukan para perempuan pribumi yang dinilai masih mempunyai tingkat sosial yang rendah.

Karena kondisinya dipingit, tak banyak acara yang sanggup dilakukan Kartini di luar rumah.  Namun, bukan berarti beliau berdiam diri. Aktivitas surat-menyurat Kartini menjadi senjata perjuangannya. Surat-surat yang ditulisnya lebih banyak berisi keluhan-keluhan perihal kehidupan perempuan pribumi khususnya Jawa yang sulit untuk maju.

Salah satunya ibarat kebiasaan perempuan harus dipingit, tidak bebas menuntut ilmu, dan juga watak yang mengekang kebebasan perempuan. Kartini menginginkan emansipasi, seorang perempuan harus memperoleh kebebasan dan kesetaraan baik dalam kehidupan maupun di mata hukum.

Kartini juga mengungkit informasi agama ibarat poligami dan alasan mengapa kitab suci harus dihapal dan dibaca tapi tidak perlu dipahami. Bahkan, ada kutipan dari Kartini yang berkata, “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu.”

Daya nalar Kartini makin matang. Ketika ia menginjak usia 20 tahun, Kartini membaca buku-buku karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta) serta banyak sekali roman-roman beraliran feminis. Semuanya memakai bahasa Belanda.

Tinggal di Jepara menciptakan Kartini merasa tidak begitu berkembang. Dengan akomodasi yang dimiliki keluarga, ia pun ingin melanjutkan sekolah ke Jakarta atau ke Belanda. Tapi orangtuanya tidak mengizinkannnya meskipun tidak melarangnya untuk menjadi seorang guru.

Kartini pun mengurungkan niatnya dan tetap menjalani hidupnya di Jepara. Pada usia 24 tahun, ia diminta orangtuanya untuk menikah. Kartini menyetujui dan menikah dengan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, 12 November 1903. Suaminya yaitu Bupati Rembang yang telah mempunyai 3 istri.

Meski sudah menjadi istri, Kartini tetap bersemangat ingin menjadi guru dan mendirikan sekolah. Keinginan Kartini disambut baik suaminya. Kartini memperoleh kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Setahun menikah, Kartini dikaruniai seorang anak pria berjulukan Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Namun, empat hari sehabis melahirkan, kematian menjemputnya. Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Meski sudah meninggal, usaha Kartini lewat surat-suratnya mempunyai arti penting bagi kedudukan perempuan Indonesia. Salah satunya, buku "“Habis Gelap Terbitlah Terang".
Berkat jasanya, R. A. Kartini ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada kala pemerintahan Soekarno dengan dasar aturan Keppres No.108 Tahun 1964 yang ditetapkan pada 2 Mei 1964 dan memutuskan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. (AC/DN)

KELUARGA
Orang Tua       : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat
????                 M.A. Ngasirah
Pasangan        : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Anak                : Soesalit Djojoadhiningrat

PENDIDIKAN
ELS (Europese Lagere School)

Demikian informasi mengenai artikel yang berjudul Profil Biodata R.A. Kartini (Selamat Hari Kartini). Terima kasih, biar sanggup bermanfaat untuk semua.

Sumber: Viva.co.id

Perhatian: Sebelum menutup Artikel "Profil Biodata R.A. Kartini (Selamat Hari Kartini)ini, Silahkan Jika ada pertanyaan, saran, atau ingin menunjukkan masukan silahkan menuliskannya di kolom komentar, Admin dengan bahagia hati untuk meresponnya.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, Silahkan untuk meng-KLIK tombol Share yang telah Admin sediakan  dibawah ini baik melalui Facebook, Twitter maupun Google Plus Agar Anda juga menjadi orang yang memberi manfaat untuk orang lain...

Sekian dari kami biar bermanfaat, Salam Sukses Pendidikan…

Belum ada Komentar untuk "✔ Profil Biodata R.A. Kartini (Selamat Hari Kartini)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel